Kalian
yang indah terendap di dalam kenangan.
Setiap
waktu yang berlalu terasa jadi lebih menyenangkan, karen ada percikan tawa di
dalamnya. Selalu ada rencana- rencana indah yang kita susun setiap bertemu.
Ah
sedih sekali ketika akhirnya saya harus mengambil keputusan untuk berpisah
dengan kalian. Semalam saya kembali rindu saat-saat makan malam rame-rame
dengan kalian. Di sini sepi sekali, mungkin penghuninya masih pada asyik
menikmati liburannya di kampung halamannya masing- masing. Tapi saya bersyukur
pernah punya pengalaman liburan-yang-tak-akan- pernah saya
lupakan-seumur-hidup.
Ah
kenapa sih liburan ini terasa singkat sekali, kenapa harus ada ujungnya juga?
Kenapa di akhir hari liburan ini justru ada sepercik rindu juga untuk
teman-teman di kampus?
Surat
ini khusus untuk yang selalu meminta saya mengulang- ulang kalimat: ‘Sudah
makan dulu sanah’
Untuk
yang memutar lagu Kahitna atau Terry setiap malamnya sebelum tidur.
Untuk
yang pernah tiba- tiba mengatakan: ‘Cinta dan politik itu sebenarnya sama’
Untuk
yang susah bilang huruf F dan mengubahnya menjadi P.
Untuk
yang selalu melempar koin untuk diperebutkan saat berenang.
Untuk
yang menyanyikan lagu ‘Kudaku lari gagah berani’ saat perjalanan ke Bromo dan
mengajarkanku untuk menyenandungkannya kala dalam perjalanan.
Untuk
yang tak pernah bisa bahasa Jawa dan vocabnya terbatas di kata: ojo dan ono,
sehingga kerap mengucapkan ‘ojo-ojo’.
Untuk
yang tergolek sakit beberapa hari setelah ke Bromo.
Untuk
yang berpose seperti personel Peterpan ketika kamera mengarah kepadanya.
Untuk
kalian yang turut berjabat tangan mengantarkan kepulanganku dan Amil ke Solo.
Surat
hari ke- 29 ini kutujukan kepada kalian yang turut memeriahkan tamasya Bromo,
ikut berenang, makan malam rame-rame, karaoke bareng, dan merencakan perjalanan
(yang untuk sementara waktu gagal) ke
Blitar. Terima kasih karena telah mengisi hari ku dengan begitu indahnya,
terima kasih untuk pertemanan (atau malah persahabatan?) dihari-hari liburan
yang singkat di Pare. Terima kasih untuk segenap kegembiraan yang turut
mewarnai hari –hari itu. Maafkan saya jika selama kita bersama banyak kesalahan
yang kuperbuat. Maaf saya tak sempat pamit langsung, dan mungkin tak kuasa
untuk menahan tangis jika pamit langsung.
This
letter is for you all guys.
I
miss you all already
Salam
hangat dari Solo untuk Pare.
Pare:
A small city with sweet memory *tertulis seperti pada kaos seseorang*
Main-
main ya ke Solo dan ke Jakarta.
Salam,


0 comments