Dear
roommate from Madura..
Hai
kamu yang tidur di kasur sebelahku tadi malam. Maaf semalam saya harus
mengganggu nyenyak tidurmu dengan suara-suara ribut dan ceriwisan khas dari
para wanita. Maaf juga semalam saya harus mengundang kedua temanku untuk
bergabung di kasurku. Karena semalam kami sebenarnya sedang mengerjakan tugas
kami, yang dengan sangat terpaksa harus kuboyong ke Bogor.
Ah
iya sebenarnya tadi malam saya ingin mengajakmu bicara. Berbincang- bincang
mengenai kota tempat tinggalmu, Madura. How’s there? How’s the weather?
How’s the culture and etc. Tapi nampaknya deretan acara yang tadi malam
terlalu membuat kita jatuh stamina, tak mampu lagi untuk terjaga barang
sedikitpun begitu melihat kasur. Hmm sebenarnya sih saya juga menyimpan rasa
rindu terhadap bantal-kasur yang putih bersih itu yang nampaknya empuk, tapi
aku belum bisa meninggalkan tumpukan tugas ini begitu saja. Dan begitulah
adanya ketika kedua temanku datang ke kamarku untuk mengerjakan proposal sakral
itu.
Malam
itu, sebenarnya saya mencoba menyisihkan rasa kantuk dan lelahku ketika
datanglah party dadakan semalam. Pesta popmie, dan saya pun memboyong keripik
tempe, kue, air mineral beserta biskuit ke dalam kamar. Oh iya room mate, maaf
ya kalo kamar agak berantakan biasalah cewek rada barbar sedikit kalo lagi
laper tengah malam gitu.
Hei
roommate, bukannya saya enggan ataupun pelit berbagi kisah ataupun makanan
cemilan penghilang galau laper itu, tapi saya tak tega membangunkanmu. Tidurmu
terlihat begitu nyenyak, mungkin terlalu capek.
Hai
roommate, salam kenal dari Solo ya J
Your
roommate, Hanna.
*surat ini saya tulis saat kelas #LLD (Local Leaders Days) @AkademiBerbagi di CICO Ressort, Bogor. Kelas menulis narasi kali ini diisi oleh @ndorokakung, dan sudah dibahas serta ditertawakan bersama dengan ikhlas segala konten di dalamnya
Selamat Menulis, tweeps -@hannaahan


0 comments