Aku, Kamu, Kami, Mereka. Kita
Pernah sekali masa kupanjatkan syukur tak
henti ketika kutangkap cahaya dengan perangkapnya dan menjadikannya
kenangan,menyimpannya rapat-rapat. Sesekali kubuka mereka jika telah terasa
rindu mendalam. Bersyukur sekali ketika waktu itu di dalam kenangan tersebut
masih dapat kulihat wajahmu, wajah kalian, dan kita. Ya kita semua.
Hari itu kita pernah bersama, menyusuri
jalanan malam di ibukota. Berpacu bersama deru cepatnya mesin kendaraan lain.
Tapi kita mengalah, tak ingin segera tergesa. "Yang penting kita
selamat" katamu sambil tersenyum ke deret kursi belakang melalui spion. Ah
seandainya kau tahu, saat itu ingin segera kubuka pintu dan berlari keluar.
Ingin berteriak sebebasnya di jalan bebas hambatan itu, menyatakan pada dunia
akan kegembiraanku bisa berkumpul bersama.
Tapi sejak saat itu, ketika masing-masing
Dari kita kembali ke tanah rantau. Kalian menjelma menjadi sosok yang tak lagi
kukenal, yang tak lagi menyapaku dengan akrab, seakan enggan membahas yang
pernah terjadi kala itu. Seperti angin di sore hari, saya hanya menjadi sosok
yang terlewatkan di tengah cepatnya waktu berlari diantara jam kerja kalian
yang berputar cepat itu.
Jikalau memang bisa
kuraih dan rebut kembali masa- masa dulu yang pernah terenggut derap cepat sang
waktu, masih mungkinkah semua dilanjutkan?
Aku, kamu, kami, mereka,
menjadi kita. Kita akan menjalani semua itu lagi, bertautan jari demi jari
bersama. Bertukar cerita tentang apa yang telah dilewatkan oleh masing- masing
dari kita.
Melepaskan diri dari
jerat kepenatan rutinitas sehari- hari, mencoba mengorek memori kisah- kisah
bersekolah dulu.
Aku, kamu, mereka, kami, kita. Saya tak pernah tau bagaimana jika kisah ini berlanjut begitu saja. Jika dulu tak pernah ada tawa, sedih, riang, suka, tangismu, mimpiku, harapnya ini semua maka akan seperti apa jalan itu tersedia bagi kita untuk saling kenal. Hingga akhirnya begitu panjang waktu yang telah kita lalui bersama, dengan masing-masing pengalaman yang akan kita bawa pulang. Aku, kamu, mereka, kami, dan yang pasti kita akankah proses dalam mencari jati diri , penyesuaian akan satu dan yang lainnya ini berakhir begitu saja? Bahkan saya pun belum sempat pamit di waktu terakhir pertemuan kita semua. Maka saya yakin akan ada satu waktu yang indah kelak bagi kita untuk bertemu lagi, karena pamit belum terucap.
Sampai jumpa di garis akhir proses ini, untuk kamu, kamu, dan kamu. Demi kita semua, dan persahabatan ini :)


0 comments